AGAMA - AGAMA MANUSIA
_________________________________________________________________
DESKRIPSI
Pengertian agama, Unsur – unsur agama, Fungsi agama, macam- macam agama,
hajat manusia terhadap agama.
KOMPETENSI
-
Mahasiswa mengetahui tentang pengertian
agama.
-
Mahasiswa mengetahui tentang
unsur-unsur agama,
-
Mahasiswa mengetahuui tentang
fungsi agama.
-
Mahasiswa mengetahui tentang
macam-macam agama.
-
Mahasiswa mengetahui tentang hajat
manusia terhadap Agama.
_________________________________________________________________
A.
PENGERTIAN
AGAMA
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang
mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang
Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan
manusia serta lingkungannya.
Kata "agama"
berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang berarti
"tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah
religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar
pada kata kerja re-ligare yang
berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang
mengikat dirinya kepada Tuhan.
Émile Durkheim mengatakan bahwa agama
adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang
berhubungan dengan hal yang suci. Kita sebagai umat beragama semaksimal mungkin
berusaha untuk terus meningkatkan keimanan kita melalui rutinitas beribadah,
mencapai rohani yang sempurna kesuciannya
B.
UNSUR
– UNSUR AGAMA
Dalam dïnul-islãm
(agama Islam) keempat unsur itu terungkap melalui Hadis Jibril, yang mencakup
butir-butir di bawah ini.
1. Ajaran (= teori; konsep)
sebagai sisi gaib
2. Iman sebagai interaksi
antara pelaku dan konsep,
3. Ritus (= upacara) sebagai
sistem lambang, dan
4. Praktik ( = amal) sebagai
perwujudan konsep dalam segala segi kehidupan individu dan masyarakat.
1. Ajaran Allah sebagai konsep hidup
Dalam dialog tentang iman,
Rasulullah menegaskan tentang masalah terpenting dari dïnul-islãm, yaitu
adanya interaksi antara seorang mu’min dengan ajaran Allah, yang disampaikan
(diajarkan) melalui malaikat-malaikatNya, dalam bentuk kitab-kitab, yang
diterima rasul-rasulNya, untuk mencapai tujuan akhir (kehidupan yang baik di
dunia dan akhirat), dengan menjadikan ajaran Allah sebagai qadar (ukuran;
standard; teori nilai) baik-buruk menurutNya.
Ajaran Allah yang dimaksud
adalah Al-Qurãn.
Al-Qurãn sebagai qadr
atau taqdïr adalah sisi gaib (abstract level) dari dïnul-islãm,
yang merupakan “teori nilai” untuk menentukan baik buruknya segala sesuatu
menurut pandangan Allah.
2. Iman sebagai interaksi
Iman pada hakikatnya adalah
interaksi (aksi timbal balik) antara Allah sebagai pemberi konsep hidup dengan
si mu’min yang menyambut da’wah (ajakan; tawaran) Allah melalui
rasulNya. Selanjutnya, interaksi itu berlangsung intensif melalui
penghayatan si mu’min terhadap Al-Qurãn, sehingga Al-Qurãn menjadi satu-satunya
konsep hidup yang tumbuh subur dalam ‘organ kesadaran’ (al-qalbu) si
mu’min, yang selanjut meledak dan membanjir keluar melalui indra pengucapan (al-lisãnu),
dan akhirnya menjelma menjadi berbagai bentuk tindakan dan kretifitas (al-‘amalu).
Tepat seperti dinyatakan Rasulullah, misalnya dalam hadis riwayat Ibnu
Majah:
الإيمان عقد بالفلب و إقرار
باللسان و عمل بالأركان .
3. Ritus sebagai sistem lambang
Dalam dïnul-islãm ada
sejumlah ritus yang dalam Hadis Jibril disebut dengan nama Al-Islãm
pula, yaitu:
a. Syahãdah sebagai sumpah
setia (bay’ah). Pada masa Rasulullah jelas bahwa syahadat (syahãdah)
adalah sebuah ‘upacara’ (ritus) untuk menyatakan sumpah setia seseorang
terhadap dïnul-islãm, alias untuk meresmikan rekrutmen seseorang atau
sejumlah orang sebagai anggota bun-yãnul-islãm (organisasi Islam).
b. Shalat sebaga sarana
pembatinan nilai-nilai Al-Qurãn, sekaligus pembinaan jama’ah/korp Islam. Orang-orang yang
menyatakan diri (bersyahadat) sebagai anggota organisasi Islam tentu harus
memahami dan menghayati konsep organisasinya, yakni Al-Qurãn. Hal itu dilakukan
melalui shalat, yang bacaan pokoknya adalah surat Al-Fãtihan (ummul-qurãn)
ditambah dengan surat-surat lain yang terus dipelajarinya. Selain itu, melalui
shalat jama’ah, mereka juga belajar untuk membangun sebuah jama’ah atau korp
yang rapi dan kompak.
c. Zakat sebagai sistem
ekonomi. Zakat, mulai dari zakat harta sampai zakat fitrah,
pada hakikatnya melambangkan kesediaan setiap mu’min yang mampu untuk mendanai
organisasi dan memperkuat jama’ah. Lebih lanjut, setelah organisasi menjelma
menjadi sebuah sistem yang dipercaya untuk menata kehidupan umat (jama’ah
mu’min plus komunitas-komunitas lain, seperti terlihat pada Piagam Madinah),
maka zakat itu pun dikembangkan menjadi sistem ekonomi masyarakat secara umum.
d. Shaum Ramadhan sebagai
pembina ketahanan mental dan fisik dalam menerapkan nilai-nilai Al-Qurãn. Seluruh anggota organisasi
jelas membutuhkan pembinaan mental dan fisik, supaya menjadi anggota-anggota
yang militan dan tangguh. Shaum Ramadhan adalah sarana yang tepat untuk itu.
e. Haji sebagai sarana
pemersatu umat Islam sedunia. Ibadah haji merupakan ritus yang paling
istimewa di antara kelima ritus dalam dïnul-islãm. Melalui hajilah umat
Islam sedunia berkumpul, menjalin persahabatan, persaudaraan, dan persatuan
berdasar kesamaan iman.
4. Praktik sebagai perwujudan konsep
Dïnul-islãm pada dasarnya adalah agama
yang berorientasi pada praktik (amal). Tapi supaya praktinya tidak dilakukan
sembarangan, Allah menempatkan rasulNya sebagai tokoh sentral untuk memimpin
dan memberikan contoh penerapan setiap aspek ajaran Islam, mulai dari yang
bersifat individu sampai pada yang bersifat kemasyarakatan. Tegasnya, pribadi
Rasulullah adalah contoh sempurna dari individu mu’min, dan masyarakat yang
dibangun beliau bersama jama’ahnya juga, otomatis, merupakan bentuk masyarakat
yang ideal. Sebuah masyarakat yang mewakili Al-Qurãn sebagai konsepnya.
5. Ihsan sebagai sistem kendali
Seperti ditegaskan
Rasulullah dalam Hadis riwayat Muslim, bahwa Allah menentukan al-ihsãn(u) pada
setiap urusan, sampai pada urusan menyembelih hewan, maka bisa disimpulkan
bahwa ihsan adalah sistem kendali (kontrol) atas setiap pelaksanaan ajaran
Allah.
Dengan demikian, harfiah,
ihsan bisa diterjemahkan sebagai “kecermatan,
ketelitian dan keseksamaan dalam melaksanakan ajaran Allah”.
Bagi kita sekarang, sikap
ihsan harus diterapkan pertama-tama dalam konteks studi ajaran Allah itu
sendiri, yang mencakup musshaf Al-Qurãn, kitab-kitab Hadits, plus buku-buku
sejarah, dan lain-lain yang berkaitan. Studi ini harus mengarah pada “ditemukannya
makna Al-Qurãn yang utuh dan murni”, yaitu suatu makna yang mampu
merekonstruksi pribadi-pribadi (tokoh-tokoh), jama’ah, dan umat yang dulu
dibangun Rasulullah bersama para sahabat beliau. Suatu makna yang,
pertama-tama, mampu menegaskan bahwa persatuan para mu’min adalah mutlak wajib,
dan perpecahan mereka adalah mutlak haram.
6. Sã’ah sebagai peluang da’wah
Harfiah, sã’ah
berarti waktu, tapi waktu di sini bukanlah sembarang waktu. Dalam konteks Nabi
Muhammad pada masanya, sã’ah yang dimaksud adalah waktu yang dibentangkan
Allah sebagai wilayah da’wah hingga mencapai hasil. Tepatnya, waktu yang
dimaksud adalah 13 tahun dalam Periode Makkah, dan 10 tahun dalam Periode
Madinah. Yang pertama (Periode Makkah) merupakan masa perjuangan untuk
memperkenalkan konsep Allah dan membangun jama’ah. Yang kedua (Periode Madinah)
adalah masa pembangunan konsep Allah itu menjadi sebuah sistem pemerintahan.
Tanda-tanda sã’ah sebagai gambaran tujuan
Melalui Hadis Jibril kita mendapat gambaran
bahwa tujuan penegakan ajaran Allah pada dasarnya adalah demi mencapai
target-target:
1. Lenyapnya diskriminasi kelas dan gender, yang merupakan produk feodalisme
dan antek-anteknya.
2. Lenyapnya kemiskinan
struktural, yang merupakan produk kapitalisme dan
antek-anteknya.
C. FUNGSI AGAMA
1. Sumber pedoman hidup bagi
individu maupun kelompok
2. Mengatur tata cara hubungan
manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.
3. Merupakan tuntutan tentang
prinsip benar atau salah
4. Pedoman mengungkapkan rasa
kebersamaan
5. Pedoman perasaan keyakinan
6. Pedoman keberadaan
7. Pengungkapan estetika
(keindahan)
8. Pedoman rekreasi dan
hiburan
9. Memberikan identitas kepada
manusia sebagai umat dari suatu agama.
D.
MACAM
– MACAM AGAMA
Macam – macam agama di dunia ada
dua yaitu :
1. Agama Samawi disebut juga agama langit,
adalah agama yang dipercaya oleh para pengikutnya dibangun berdasarkan wahyu
Allah. Beberapa pendapat menyimpulkan bahwa suatu agama disebut agama Samawi
jika:
a. Mempunyai definisi Tuhan yang jelas
b. Mempunyai penyampai risalah (Nabi/Rasul)
c. Mempunyai kumpulan wahyu dari Tuhan yang diwujudkan dalam Kitab Suci
2. Agama ardhi yaitu agama
yang di ciptakan oleh manusia dan sering disebut dengan
agama budaya, seperti Hindu, Budha, Konghucu, Shinto, dan
lainnya, meski juga punya kitab yang dianggap suci, namun bukan wayhu yang
turun dari langit. Kitab yang mereka anggap suci itu hanyalah karangan dari
para pendeta, rahib, atau pun pendiri agama itu. Bukan wayhu, bukan firman,
bukan kalamullah, bukan perkataan tuhan.
Dari sisi isi materi, umumnya kitab suci agama samawi berisi aturan dan hukum. Kitab-kitab itu bicara tentang hukum halal dan haram. Adapun kitab suci agama ardhi umumnya lebih banyak bicara tentang pujian, kidung, nyanyian, penyembahan
Dari sisi isi materi, umumnya kitab suci agama samawi berisi aturan dan hukum. Kitab-kitab itu bicara tentang hukum halal dan haram. Adapun kitab suci agama ardhi umumnya lebih banyak bicara tentang pujian, kidung, nyanyian, penyembahan
Hajat
atau kebutuhan manusia kepada agama yaitu :
1. Sumber pedoman hidup bagi individu maupun kelompok
2. Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan
manusia.
3. Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah
5. Pedoman perasaan keyakinan
6. Pedoman keberadaan
7. Pengungkapan estetika (keindahan)
8. Pedoman rekreasi dan hiburan
9. Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.
_________________________________________________________________
free web counter







0 komentar:
Posting Komentar